Tomohon Mendunia: Aksi Nyata Jemmy Makasala Ubah Wajah Kota Lewat Pengelolaan Sampah
TOMOHON,SULAWESI UTARA,,Buletin nasional,10 mei 2026
Di balik sejuknya udara pegunungan Kota Tomohon, Sulawesi Utara, tersimpan tantangan besar yang mengancam kelestarian lingkungannya: 51,6 ton sampah diproduksi setiap hari. Selama bertahun-tahun, gunungan sampah organik dan anorganik membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tara-Tara hingga melampaui kapasitasnya. Namun, dari sudut Tomohon Barat, seorang pria bernama Jemmy Makasala mulai menulis ulang narasi kelam tersebut.
Jemmy bukan sekadar warga biasa; ia adalah fasilitator komunitas yang memiliki prinsip teguh bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar layak disebut “sampah”. Baginya, segalanya adalah sumber daya yang belum terolah.
Strategi 100 Meter: Mendekatkan Solusi ke Pintu Rumah
Langkah Jemmy dimulai dari hal sederhana namun sistematis. Di distriknya, ia menginisiasi penempatan sekitar 60 kantong kompos yang tersebar secara strategis.
”Kami menempatkan kantong kompos setiap 100 meter. Tujuannya agar setiap warga dapat dengan mudah mengaksesnya tanpa harus berjalan jauh,” jelas Jemmy saat ditemui di tengah rutinitasnya memantau kebun warga.
Mengingat 70% dari total sampah Tomohon adalah sampah organik, keberadaan kantong-kantong ini menjadi krusial. Dengan memilah sejak dari dapur, warga tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga membantu memutus rantai polusi lindi dan gas metana yang selama ini mencemari sumber air dan udara di sekitar pemukiman.
Sinergi Global: Kolaborasi Bersama UN-Habitat
Aksi akar rumput Jemmy kini mendapat sorotan internasional. Melalui Proyek ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Fase II, badan dunia UN-Habitat turun tangan mendukung Tomohon dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah terpadu.

Tempat pembuangan sampah Tara-tara, Lokasi pembuangan sampah utama di Tomohon
Wali Kota Tomohon, Caroll Senduk, mengakui bahwa tantangan kota selama ini meliputi kurangnya koordinasi lintas sektor dan data yang tidak reliabel. Melalui kolaborasi ini, UN-Habitat memfasilitasi dialog antara 70 pejabat kota, pakar teknis, dan warga untuk merumuskan peta jalan baru.
Hasil konkret dari kolaborasi ini adalah penguatan Fasilitas Pengolahan Limbah Organik Terpadu Tomohon (PPSOT) yang kini diawasi langsung oleh Jemmy.
Ekonomi Sirkular: Dari Sisa Makanan Menjadi Emas Cair
Di PPSOT Tomohon Barat, sampah organik mengalami transformasi luar biasa. Jemmy mengolahnya menjadi:

Eco-Enzyme: Cairan serbaguna untuk pupuk alami, disinfektan, hingga bahan sabun.
Pupuk Organik Cair (POC): Digunakan di lahan pertanian percontohan untuk menghasilkan sayuran yang lebih subur.
Pengendali Bau: Cairan ini bahkan disemprotkan di TPA untuk meminimalisir polusi udara yang selama ini dikeluhkan warga.
“Saya menolak menggunakan kata ‘sampah’. Semuanya bisa digunakan kembali,” tegas Jemmy. Meski saat ini fasilitasnya masih memiliki keterbatasan kapasitas, Jemmy optimis bahwa dengan penambahan kontainer dan partisipasi publik yang lebih luas, Tomohon dapat menuju status zero waste.
Masa Depan Tomohon
Perubahan di Tomohon kini bukan lagi sekadar soal teknologi, melainkan perubahan perilaku. Visi Jemmy dan dukungan UN-Habitat memberikan harapan baru bagi 205.448 penduduk Tomohon. Sebuah masa depan di mana bau menyengat dari TPA digantikan oleh aroma kesuburan dari kebun-kebun warga yang terawat secara organik.
Jika gerakan yang dimulai dari Tomohon Barat ini meluas ke seluruh kota, Tomohon tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Bunga, tetapi juga sebagai model dunia dalam ketahanan lingkungan perkotaan.
(Dave)
Sumber: UN-Habitat (April 2026)






